
Rabu, 27 Februari 2013
Hidup adalah Pilihan
Pendidikan yang sama tidak selalu menghasilkan prestasi yang sama bagi para muridnya. Selalu ada murid yang lebih pintar di samping yang sulit menerima pelajarannya. Peluang yang sama tidak akan menghasilkan sukses yang sama. Ada saja mereka yang cepat dan efektif memanfaatkannya hingga meraih sukses luar biasa, tetapi ada juga yang hasilnya biasa-biasa saja, bahkan ada yang sama sekali tidak bisa menangkap atau menemukan peluang itu.
Begitu pun saat menghadapi cobaan. Seseorang mungkin bisa menerimanya dengan mudah, lalu melupakannya, belajar lebih tekun lagi, berusaha lebih keras lagi untuk merintis hidup baru agar masa depannya lebih baik. Tetapi orang lain justru sebaliknya. Ia merasa cobaan itu begitu memukulnya hingga ia sulit berdiri dan bahkan tak bisa atau tak berani melangkah lebih jauh.
Sebenarnya, reaksi seseorang terhadap kondisi yang tidak menguntungkan itu adalah pilihan. Ia bisa menerimanya sebagai pukulan, bisa sebagai tantangan, bahkan bisa pula menganggapnya sebagai peluang.
Nah, selanjutnya apa yang akan kita lakukan jika menghadapi keadaan seperti itu??
Post By Peluang Usaha
Hidup adalah Pilihan
Alkisah,
Ada sebuah keluarga sederhana. Gagal panen yang dialami oleh sang ayah pada suatu musim, menyebabkan dia merasa kecewa, marah, dan frustasi. Maka, untuk menghilangkan kesedihan, stres, dan waktu yang terasa lama, sebagai pelarian, tanpa disadari, dia mulai terbiasa minum minuman keras hingga mabuk.
Keadaan alam yang tak kunjung membaik, akhirnya membuat kondisi si ayah makin memburuk. Hingga pada suatu hari, dia ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri karena terjatuh di saat mabuk dan akhirnya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan.
Lima belas tahun kemudian, dua orang anak yang ditinggalkan oleh sang ayah telah menjadi pemuda yang tumbuh dengan kepribadian yang berbeda. Si bungsu menjalani hidupnya di penjara karena kasus perampokan.
Saat ditemui sahabatnya, dia tertunduk lesu dan mengeluh, "Semua ini gara-gara ayahku. Dia itu seorang pemabuk dan penjudi. Dia tidak pernah mendidik aku dengan baik. Keluargaku bangkrut dan berantakan. Aku tidak bisa sekolah lagi. Beginilah aku sekarang. Sudah nasibku seperti ini."
Berbeda dengan si kakak yang juga menetap di daerah yang sama. Dia berhasil dan sukses mengelola usahanya. Ketika bertemu dalam suasana kangen dan gembira, si sahabat spontan bertanya, "Sobat, aku telah bertemu dengan adikmu di penjara. Kalian dari latar belakang keluarga yang sama, lalu, apa yang membuat kamu berbeda dengan saudaramu dan bisa sukses seperti ini?"
Dia menghela napas panjang dan menjawab, "Sudah terlalu banyak penderitaan dalam hidupku dan keluarga kami, aku hanya bertekad untuk mengakhirinya, bebas dari kemiskinan. Melihat ayahku mengakhiri hidupnya seperti itu, ah... aku benar-benar tidak ingin bernasib seperti ayahku. Dan yang pasti aku ingin membahagiakan ibuku. Makanya, aku berusaha mati-matian untuk berjuang dan berusaha hingga hasilnya seperti yang kamu lihat sekarang ini."
Sambil menerawang dia melanjukan, "Sayangnya, adikku berpikir lain. Aku sudah berusaha, bukan hanya sekali tetapi berulangkali mengajak dia untuk mengikuti aku bekerja, tetapi karena kemalasannya dan pengaruh pergaulan yang buruk, dia memilih jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan. Yah... sungguh sangat disayangkan, dia harus berakhir di penjara seperti hari ini."
Pesan Moral:
Hidup adalah pilihan. Lihatlah kakak beradik yang memiliki latar belakang keluarga yang sama, pada cerita di atas. Mereka menyikapi dengan cara yang berbeda dan memutuskan memilih jalan yang berbeda. Maka hasil akhirnya pun pasti akan berbeda pula.
You are what you think!
Jika seseorang mampu memimpin dirinya dengan sikap mental yang positif dan benar-benar mau berusaha keras untuk mengubah nasibnya, tentu kehidupan sukses akan dapat diraih.
Post By Peluang Usaha
Selasa, 26 Februari 2013
Think Big = Berpikir Besar
Makna dari T-H-I-N-K-B-I-G (berpikir besar) Dalam kehidupan:
Talent (bakat) dan Time (waktu), keduanya adalah hadiah dari Sang Pencipta
Hope, harapan untuk hal-hal yang baik dan jujur
Insight, wawasan yang diperoleh dari orang lain atau bacaan yang bermutu
Nice to all people berbuat baiklah pada semua orang
Knowledge (ilmu pengetahuan), itu adalah kunci kehidupan
Book (buku), bacalah buku sebanyak-banyaknya
In-dept, belajar dan perdalamlah keterampilan
God (Tuhan), Jangan lupa pada Sang Mahakuasa
Post By Peluang Usaha
Memilih Nama Bisnis yang Tepat

Halo sahabat!
Jika memulai usaha, sebuah nama merupakan hal yang sangat penting dan dapat menentukan kesuksesan bisnis. Setuju? Wira akan share tentang Tips Memilih Nama Bisnis yang Tepat. Yuk disimak! :)
- Nama produk / perusahaan juga akan membangun keterkaitan emosi dengan calon pelanggan serta membentuk image tentang produk yang ditawarkan.
- Pilihlah kata yang spesifik dan khas agar bisnismu mudah dikenali. Hindari nama yang terlalu umum seperti, 'Bakso Mas Dimas'. Bayangkan ada betapa banyak yang bernama 'Dimas' di Indonesia. Ini akan menyulitkan calon pelanggan untuk mengingat dan menemukan.
- Hindari nama umum yang jelas menggambarkan jenis produk tertentu, seperti 'Usaha Layanan Antar Makanan Indonesia'.
- Memilih nama bisnis lebih sulit daripada memilih nama anak. Orangtua lain tidak akan menuntut ke meja hijau jika memiliki nama anak yang sama.
- Hindari nama yang mengandung lokasi jika memiliki rencana untuk mengembangkan bisnismu ke lokasi lainnya.
- Lepaskan visi jangka panjang bisnis Anda dengan tidak membatasi jajaran layanan atau produk Anda di masa datang.
Nama bisnis yang sulit akan dilupakan oleh pelanggan. Hati-hati dalam memilih nama ya sahabat wira. Jadi, apa pilihan nama bisnismu, sahabat? :)
Post By Wirausaha Muda Mandiri
Koin 99
Alkisah,
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang sangat kaya. Akan tetapi, ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Dari hari ke hari, ia merasa hidupnya kian hampa. Repotnya, dia sendiri tak tahu apa yang menjadi penyebabnya.
Suatu pagi, ketika bangun dari tidur, Raja mendengar suara seseorang yang sedang bernyanyi. Karena penasaran, dia pun bergegas mendekati asal suara tersebut. Ternyata, suara itu berasal dari salah seorang pelayan kerajaan yang sedang membersihkan ruangan. Pelayan itu terlihat sangat menikmati hidupnya.
Dengan penasaran sang Raja bertanya: "Wahai Pelayan, rahasia apa yang engkau miliki, sehingga bisa begitu bahagia?"
Pelayan itu pun menjawab, "Tuanku Raja, hamba tidak memiliki apa-apa, kecuali keluarga yang bahagia dan penuh syukur."
Karena merasa penasaran dengan penuturan si Pelayan, sang Raja pun memanggil penasihat kerajaan yang bijaksana untuk dimintai saran.
Kata sang Penasihat, "Yang Mulia, saya yakin bahwa si pelayan itu belum masuk Koin 99. Untuk menjelaskannya, mohon beri hamba koin emas sejumlah 99. Nanti, koin emas ini akan hamba masukkan ke dalam tas, dan hamba letakkan di depan pintu rumah si pelayan."
Singkat cerita, tas yang sudah berisi koin 99 itu kemudian diletakkan di depan rumah si pelayan. Sang Raja sendiri dengan perasaan ingin tahu, ikut menantikan bagaimana kira-kira reaksi si Pelayan.
Pada saat si pelayan membuka pintu rumah, dia terkejut dan berteriak kegirangan karena menemukan tas besar berisi kepingan uang emas. Dengan tak sabar, si Pelayan pun mulai menghitungnya. Ternyata, hanya ada 99 keping uang emas—yang berarti tidak genap 100 keping. Lalu, pelayan itu pun mencari nya ke seluruh penjuru istana. Tetapi sia-sia saja, karena ia tetap tidak menemukannya. Jadi, dia bertekad akan bekerja lebih keras supaya dapat membeli 1 lagi koin uang emas sehingga jumlah uang emasnya bisa genap menjadi 100.
Karena begitu fokus akan ambisi dan pekerjaannya, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, si pelayan tak lagi bernyanyi dan bersiul gembira. Wajahnya terlihat begitu serius dan murung. Terlihat perubahan yang sangat drastis dalam diri si pelayan.
Sang Penasihat pun menjelaskan hal ini kepada raja, "Tuanku, itu artinya, Pelayan itu telah bergabung dengan Koin 99, yaitu mereka yang memiliki banyak hal, tetapi merasa tidak bahagia. Mereka fokus bekerja untuk mengejar satu koin lagi supaya genap menjadi 100. Celakanya, dalam mengejar 1 koin ini, mereka lupa pada hal-hal lainnya. Mereka kekurangan waktu tidur, kekurangan waktu untuk keluarga, untuk lingkungan, serta kekuarangan waktu untuk kebahagiaan mereka sendiri. Terkadang, dalam mengejar satu koin emas ini, mereka rela mencelakai orang lain. Itulah yang hamba maksud dengan Koin 99, Yang Mulia."
"Wahai engkau Penasehat yang bijak, sekarang aku memahami maksudmu," jawab sang raja.
"Mulai sekarang kuputuskan, untuk menghargai setiap apapun yang aku miliki."
Pesan Moral:
Sebagaimana si Pelayan dalam cerita tadi, tanpa kita sadari, kita pun sering terfokus hanya pada '1 koin' yang kurang, tanpa pernah bersyukur pada '99 koin' yang sudah kita punya. Padahal kita semua tahu, ada hal-hal yang tak ternilai harganya. Misalnya kesehatan, teman, sanak saudara dan keluarga. Bahkan kalau toh seandainya ada salah satu dari hal-hal tersebut tidak kita miliki, setidaknya kita masih memiliki umur dan waktu.
Mari teman-teman, mengembangkan dan menjalankan semua aktivitas dengan modal rasa syukur dan bahagia. Sehingga di sepanjang jalan, kita bisa selalu ringan tangan berbagi kebahagiaan kepada sesama, terutama keluarga.
Post By Peluang Usaha
Senin, 25 Februari 2013
Palu Menghancurkan Kaca, Tetapi Palu Membentuk Baja
"Palu Menghancurkan Kaca, Tetapi Palu Membentuk Baja"
Apa makna dari pepatah kuno ini??
Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu / masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan jadi remuk redam. Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan. Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.
Jangan pernah jadi kaca, tapi jadilah baja.
"Mental baja" adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitnya.
Mengapa demikian??
Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa "masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik". Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.
Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru!!
Jika kita adalah "baja", kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita. Sebaliknya jika kita "kaca" maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.
Bagaimana dengan Anda, termasuk KACA atau BAJA??
Apa makna dari pepatah kuno ini??
Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu / masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan jadi remuk redam. Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan. Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.
Jangan pernah jadi kaca, tapi jadilah baja.
"Mental baja" adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitnya.
Mengapa demikian??
Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa "masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik". Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.
Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru!!
Jika kita adalah "baja", kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita. Sebaliknya jika kita "kaca" maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.
Bagaimana dengan Anda, termasuk KACA atau BAJA??
Post By Peluang Usaha
Langganan:
Postingan (Atom)


