Selasa, 29 Januari 2013

Cincin Ajaib



Seorang bapak tua yang memiliki 3 orang putra sedang bingung. Ia merasa memiliki sebuah cincin ajaib yang dianggapnya bertuah karena sejak digunakan selalu membawa keberuntungan dan kesuksesan bagi dirinya.

Cincin ajaib itu rencananya ingin diwariskan kepada salah satu anaknya, tetapi ia khawatir anak yang lain akan merasa iri. Sebagai solusi, ia pergi ke tukang cincin dan membuat 2 cincin yang sama seperti cincin ajaib miliknya.

Keesokan harinya, ia memanggil ketiga putranya lalu berkata, "anak-anakku cincin ini sama baiknya, siapa yang memakainya maka dia akan beruntung."

Tak lama berselang, sang bapak tua itu meninggal dunia. Seiring berjalannya waktu, ketiga putranya tahu bahwa hanya satu cincin yang asli. Mereka lalu pergi ke seorang hakim yang bijaksana untuk mencari tahu mana cincin yang asli dan meminta jalan keluar dan pembuktian.

Setelah merenung dan berpikir, hakim bijaksana itu berkata "aku tidak dapat menolong kalian, tetapi aku tahu sebuah cara untuk memastikan cincin yang asli. Pakailah cincin kalian masing-masing. Kalian yang harus membuktikan bahwa cincin kalian asli, yaitu dengan bertindak dan bekerja dengan baik sehingga kalian menjadi orang yang beruntung."

Ketiganya bertekad untuk membuktikan cincin mereka yang asli dan bertuah. Mereka berusaha membuktikan pada diri sendiri bahwa keberhasilan dan keberuntungan mereka adalah karena cincin ajaib asli pemberian ayah mereka.

Setelah beberapa tahun berlalu, sukses demi sukses mereka raih bersama. Akhirnya mereka pun sadar dan mengerti bahwa bukan cincin yang membuat mereka sukses, melainkan karena mereka sendiri.

Bukan sesuatu di luar diri kita yang membuat kita sukses atau beruntung. Bukan cincin kita, busana kita, atau apapun yang kita kenakan. Tetapi yang menentukan keberhasilan adalah keuletan, doa, bersyukur dan usaha diri kita sendiri.

Read more >>

Kisah Raket yang Rusak



Seorang anak laki-laki kecil tanpa sengaja merusakkan raket milik ayahnya. Karena takut, ia menyembunyikan raket itu di bawah tempat tidur dalam kamarnya.

Setiap kali ayahnya memasuki kamar, hatinya ketakutan. Ia sengaja duduk di atas tempat tidur, khawatir sang ayah mengangkat tempat tidur kemudian menemukan raket yang ia rusakkan. Karena itulah ia selalu berusaha memindahkan raket yang ia rusakkan ke tempat lain sesering mungkin, dengan harapan sang ayah tidak akan dapat menemukannya.

Sejauh ini semuanya selalu bisa diatasi dengan baik. Kesalahannya tetap tertutup rapat-rapat di depan ayahnya. Namun, selama itu pula hatinya tidak tenang. Setiap saat rasa bersalah muncul dan menghakiminya. Kemana pun ia pergi, hatinya selalu tertuju kepada raket sang ayah yang pernah ia rusakkan.

Semakin sering ia memindahkan raket yang ia rusakkan, ia semakin gelisah, karena itu berarti semakin sedikit tempat yang memungkinkan ia menyembunyikan raket rusak itu. Dalam ketertekanannya, akhirnya ia mengambil raket rusak itu, membawanya di tangan kanannya, kemudian mendatangi ayahnya dengan takut.

Setelah berada di depan ayahnya, ia pun berkata sambil menunjukkan raket rusaknya, "ayah, maafkan aku karena telah merusakkan raket ayah, aku siap untuk dihukum."

Mendengar pengakuan anaknya, sang ayah membungkuk dan berkata, "nak, ayah sudah tahu semua itu dari minggu lalu, ayah hanya menunggu kamu mempunyai keberanian untuk mengakuinya. Sekarang ayah hendak berkata kepadamu bahwa ayah memaafkanmu."

Kalimat terakhir dari sang ayah benar-benar membuat sang anak lega dan merasa bebas. Mengakui kesalahan adalah awal dari sebuah perbuatan besar, dan mempertanggungjawabkan kesalahan adalah langkah menuju kebahagiaan.

Read more >>

Minggu, 27 Januari 2013

Kekuatan untuk Bertindak

George Danzing adalah seorang mahasiswa di salah satu Universitas, kala itu ia terlambat untuk datang pada mata kuliah matematika. Ia memasuki kelas namun ternyata teman-temannya sudah bubar. 


Kemudian, George melihat ada 2 buah soal pada papan tulis di depan ruangan kelas itu. Ia berfikir bahwa itu pasti adalah PR yang baru diberikan profesornya. Sehingga dia mencatat pada bukunya dan membawanya ke rumah.

Berhari-hari dia mencoba untuk menyelesaikan PR tersebut, berbagai cara ia coba.

Mungkin ia berfikir 'Tidak biasanya dosen memberikan tugas demikian sulitnya, tetapi pasti ada jawabannya. Pasti ada'.

Pada akhirnya, ia berhasil mengerjakan soal nomer 1. Karena ia mengira itu adalah PR sehingga ia mengumpulkan tugas tersebut pada profesornya dan meletakan di ruang kerja profesor tersebut.

Ketika siang hari, dia di cari oleh sang profesor tersebut. Sang profesor bertanya bagaimana dia bisa menyelesaikan soal tersebut?

George menjelaskan bahwa ketika itu dia terlambat mengikuti mata kuliahnya dan dia kemudian melihat 2 soal itu dipapan tulis dan menganggap bahwa itu (mungkin) adalah PR.

Anda tahu jawaban dari sang profesor?

Soal itu ditulis sang profesor ketika sedang menjelaskan tentang 2 buah soal tersulit di mukabumi ini. Dan hingga kelasnya berakhir pada saat itu, tidak ada satupun yang bisa memecahkannya!

Berarti, kalau saja saat itu George mengikuti mata kuliah tersebut, mungkin saat itu ia berfikir bahwa itu memang soal tersulit dan berfikir bahwa memang tak seorangpun dapat menyelesaikannya. Mungkin saja ia bisa teracuni oleh kata-kata profesornya tetang sulitnya soal itu.

Saat ini ia menjadi profesor terkenal di Stanford University, dialah pemecah soal tersulit, dan dia memecahkan ketika dia memang tidak tahu bahwa yang dikerjakannya adalah soal tersulit yang pernah ada.
Pesan Moral: 
Sesuatu hal / masalah akan terasa sulit apabila kita menganggap sulit, maka alangkah baiknya kita memulai sesuatu tanpa anggapan sulit, karena sesungguhnya hal sulit hanyalah sebuah anggapan. 
Katakan BISA, untuk suatu hal apa-pun!! 
Karena dengan ucapan BISA, akan menambah kekuatan untuk bertindak!!
Post By Peluang Usaha
Read more >>

Secangkir Kopi


Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, sang guru segera ke dapur mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik biasa seperti kita jumpai di pasar. Guru tersebut menyuruh para alumni mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi.

Setelah masing-masing alumni mengisi cangkir-cangkirnya dengan kopi, sang guru pun berkata "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik."

Ia melanjutkan "Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun masalahnya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian fokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya."

"Hidup kita seperti kopi dalam analogi tersebut diatas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki" kata sang guru.

Para alumni itu tercenung, dalam hati mengatakan "itulah mengapa mereka perlu jauh-jauh datang reuni dan menemui guru mereka yang bersahaja namun kaya makna itu."
Pesan Moral: 
Kualitas hidup kita ditentukan oleh 'apa yang ada di dalam' bukan 'apa yang kelihatan dari luar'.
Post by Peluang Usaha
Read more >>

Sukses

Read more >>

Percalah Terhadap Diri Sendiri

Read more >>

Jalani Sesuai KeyakinanMu

Read more >>

Awali Harimu dengan Senyuman

Read more >>

Sabtu, 26 Januari 2013

Filosofi Matematika dalam Kehidupan

Mengapa 'plus dikali plus hasilnya plus' dan juga kalau 'minus dikali plus atau sebaliknya plus dikali minus hasilnya minus' Anehnya pula, kenapa 'minus dikali minus hasilnya plus'???

Hikmahnya adalah:

  • Mengatakan / ­menyatakan "Benar" terhadap hal-hal yang "Benar" adalah suatu tindakan yang "Benar" atau bahasa matematikanya seperti ini "+ x + = +"
  • Mengatakan / ­menyatakan "Benar" terhadap sesuatu yang "Salah" adalah suatu tindakan yang "Salah" atau dengan kata lain "+ x - = -"
  • Mengatakan / ­menyatakan "Salah" terhadap sesuatu yang "Benar" adalah suatu tindakan yang "Salah" atau penulisan logika matematikanya seperti ini "- x + = -"
  • Mengatakan /­ menyatakan "Salah" terhadap sesuatu yang "Salah" adalah suatu tindakan yang "Benar" atau "- x - = +"
Bagaimana dengan Pendapat Anda?

Post By Peluang Usaha
Read more >>

Pertaruhan Nyawa

::: Demi sesuap ikan... nyawa dipertaruhkan :::

Read more >>