Senin, 11 Februari 2013

Memulai Mengerjakan Sesuatu dengan Hati Senang

Read more >>

Kisah Sebuah Pensil

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"

Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai."

"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.

Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

"Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya" ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."

"Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat banyak hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya."

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik."

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar."

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu."

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda / goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan."

Post By Peluang Usaha
Read more >>

Selalu Positif di Hari Senin

"jika anda memulai Senin dengan sikap positif, maka akan jauh lebih mudah untuk melawan hal-hal yang negatif pada minggu ini"

Read more >>

Sabtu, 09 Februari 2013

Kisah Uang Rp 1.000 dan Rp 100.000

Uang kertas Rp. 1000 dan Rp. 100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama di cetak serta di edarkan oleh Bank Indonesia. Secara kasat mata mereka memang tidak memiliki perbedaan yang mencolok. Secara bersamaan mereka di buat, keluar, dan beredar di tengah-tengah masyarakat melalui Bank Indonesia.

Beberapa bulan kemudian, secara tidak sengaja mereka bertemu di salah satu dompet seorang anak muda. Kemudian, terjadilah percakapan di antara mereka.

Rp. 100.000 bertanya kepada Rp. 1000, "kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor, dan bau?"

Lalu di jawab oleh Rp. 1000, "karena setelah aku keluar dari Bank, aku langsung berada di tangan orang-orang bawah, dari tukang becak, tukang ojek, tukang parkir, penjual sayur, penjual ikan, bahkan sampai di tangan pengemis."

Lalu uang Rp. 1000 bertanya kembali kepada Rp. 100.000, "kenapa kamu masih tampak kelihatan seperti masih baru, rapi, dan bersih?"

Di jawab oleh uang Rp. 100.000, "karena begitu aku keluar dari Bank, aku langsung di sambut wanita-wanita cantik, dan aku beredar di mall, restoran mahal, atau hotel berbintang. Keberadaanku sangat di jaga dan terkadang jarang keluar dari dompet."

Lalu uang Rp. 1000 bertanya lagi, "pernahkah kamu mampir di tempat ibadah?"

"Belum pernah" jawab Rp. 100.000.

Lalu Rp. 1000 pun berkata, "ketahuilah, meskipun keadaanku sekarang seperti ini, namun setiap hari aku selalu mampir di kotak-kotak amal, berada di tangan-tangan anak yatim. Bahkan, aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidaklah di pandang sebagai nilai oleh para manusia, namun aku di pandang sebagai manfaat."

Akhirnya, menangislah Rp. 100.000, karena ia tersadar telah merasa besar, hebat, tinggi, bernilai, tapi tidaklah begitu bermanfaat selama ini.

♪Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat sesama♪

Post By Peluang Usaha
Read more >>

Kejernihan Pikiran

Alkisah, ada pasangan muda yang baru menikah menempati rumah di sebuah komplek perumahan. Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca. Ia melihat tetangganya sedang menjemur kain.

"Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri. "Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus."

Suaminya pun menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.

Sejak hari itu, setiap tetangganya menjemur pakaian selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.

Seminggu telah berlalu.

Sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya "Coba lihat suamiku, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya?"

Sang suami pun berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita."

Sang istri terdiam.
Pesan Moral: 
Begitulah kehidupan, Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela), lewat mana kita memandangnya 
Jika HATI kita bersih, maka bersih pula PIKIRAN kita. Jika PIKIRAN kita bersih, maka bersih pula PERKATAAN kita. Jika PERKATAAN kita bersih (baik), maka bersih (baik) pula PERBUATAN kita. 
Hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan hidup kita. Jika ingin hidup kita berkembang, maju, dan sukses (bersih / baik). Maka kita harus menjaga hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita tetap baik. Karena itulah segalanya. 
HATI menentukan PIKIRAN, PIKIRAN menentukan PERKATAAN dan PERBUATAN
Post By Peluang Usaha
Read more >>

Pelajaran Tahu Diri

Saya mengenal beberapa orang yang tampil amat bersahaja. Kita sebut saja salah-satu diantaranya adalah Pak Eddy.

Hal yang paling menakjubkan dari Pak Eddy ini, meskipun dia adalah pemilik salah-satu perusahaan besar di Indonesia, dengan karyawan belasan ribu orang, dia selalu tampil bersahaja. Dia sering tidur di pabrik, bermalam menemani karyawannya lembur, tampil dengan pakaian sederhana, sepatu sederhana, tidak segan memakai seragam buruh, makan bersama dengan karyawannya di kantin, berkeliling pabrik dan kantor memeriksa karyawan, bertanya, dan hal-hal kecil lainnya. Tentu saja itu bukan pencitraan, perusahaan itu milik dia 100%, bahkan mau ditutup sekalipun terserah dia. Pak Eddy tidak memerlukan pujian siapapun dengan tampil sederhana, jadi dia melakukannya karena dia memang sesimpel itu.

Nah... terkadang hal ini justru memunculkan situasi menggelikan, se­kaligus mengharukan. Banyak orang salah paham, menyangka Pak Eddy ini hanya karyawan biasa. Salah-satunya adalah kenapa saya menuliskan cerita ini.

Begini ceritanya:

Pada suatu hari, ada seorang anak muda (pintar sekali anak muda ini, baru lulus dari kampus paling elit, jurusan elit), diterima sebagai management trainee di perusahaan tersebut. Itu jalur penerimaan yang baik, besok lusa, kalau berprestasi, maka dengan cepat anak muda ini bisa naik pangkat jadi manajer, terus naik ke atas.

Pada hari ketiga dia bekerja, dia sibuk mempelajari banyak bahan tentang perusahaan tersebut. Membaca dokumen-dokumen yang akan terkait pekerjaannya. Pagi itu, dia ingin memfotokopi salah-satu dokumen SOP (Standar Operational and Prosedur) pabrik, celingak-celinguk di meja kerjanya, lewatlah Pak Eddy yang baru datang, tanpa membawa tas mahal, tanpa dikawal ajudan, bersahaja. Anak muda kita ini salah paham, dia kira ini karyawan OB, pesuruh yang datang pagi-pagi sekali, maka langsung berseru, "Pak, bisa fotokopi dokumen ini."

Pak Eddy menoleh, diam sejenak, lantas tersenyum, mengangguk.

"Fotokopi dari halaman sekian ke halaman sekian."

Anak muda kita ini memastikan. Pak Eddy mengangguk.

Lima menit berlalu, Pak Eddy kembali membawa hasil fotokopian. Si anak muda ini, entah apa yang di kepalanya, justru meminta di fotokopiin lagi dokumen yang lain. Pak Eddy tersenyum, lagi-lagi mengangguk. Kantor masih relatif sepi, jadi tidak ada yang segera memberitahu anak muda jagoan kita ini, bahwa dia telah melakukan kesalahpahaman super fatal. Petugas mesin fotokopi pun baru datang saat Pak Eddy kali kedua mengoperasikan mesin fotokopi, bergegas bilang biar dia saja. Pak Eddy tersenyum, tidak usah, toh selama ini dia sering melakukannya sendiri.

Lima menit berlalu, Pak Eddy kembali menyerahkan hasil fotokopian. Si anak muda itu yang lagi sibuk membaca dokumen hanya bilang, "letakkan saja di atas meja, pak" bahkan tanpa merasa perlu bilang terimakasih.

Pak Eddy mengangguk, lantas beringsut pergi.

Tidak ada yang tahu situasi itu hingga sore harinya. Saat jadwal karyawan baru management trainee dikenalkan ke presiden direktur perusahaan oleh bagian HRD. Betapa pucat pasi anak muda kita ini. Bersalaman dengan tukang fotokopinya tadi pagi.

Nah, kenapa saya bilang mengharukan, karena tidak sedikit pun Pak Eddy mengungkit hal tersebut. Hanya tersenyum, menepuk bahu si anak muda, bilang, "Selamat bekerja, Nak."

Hingga esok lusa, hingga esok lusanya lagi, tidak diungkit-diungkit. Kisah ini diketahui saat si anak muda ini dengan penuh penyesalan, di sesi feedback anak-anak MT dengan HRD, mengakui dia telah melakukan hal bodoh tersebut.

Kisah ini benar-benar terjadi. Kejadian tersebut memang hanya salah paham. Namanya juga anak baru, dia belum kenal siapapun dan dalam pemahaman orang-orang tertentu mungkin wajar-wajar saja dia menyuruh-nyuruh OB / pesuruh.
Pesan Moral: 
Selalulah pandai-pandai membawa diri. Salah satu kebijaksanaan yang semakin sering diabaikan oleh orang-orang yang serba ingin cepat, serba ingin praktis saat ini adalah 'Pelajaran tahu diri'. 
Lupa untuk mengukur diri sendiri. Lupa untuk sering-sering bertanya: Siapa kita? Apa sih kita?
Post By Peluang Usaha
Read more >>

Jangan Cuma Bermimpi, Bertindaklah

Alkisah, ada seorang anak muda sering merenungkan nasibnya. Dari pagi hingga siang kerjaannya hanya memperhatikan orang memancing ikan di sebuah dermaga.


Pada saat itu, ia memperhatikan seorang bapak tua sedang memancing dan hasil pancingan paling banyak diantara pemancing-pemancing lainnya.

Anak muda itu berkata "Jika saya bisa medapatkan ikan seperti bapak tua ini, saya pasti akan menjualnya dan mendapat uang yang banyak."

Lalu sang bapak tua menghampiri anak muda itu dan berkata "Nak, ikan ini saya berikan sebagiannya kepada kamu, tapi engkau harus membantu saya memegang kail ini selama saya pergi, karena saya harus menjemput cucu saya."

Selama dua jam tanpa sadar anak muda ini ternyata memperoleh tangkapan yang jauh lebih banyak di banding tangkapan bapak tua sebelumnya.

Selagi asyiknya ia memancing, bapak tua itu pun kembali bersama cucunya. Dengan semangat dan girang anak muda itu menunjukkan hasil tangkapan yang banyak.

Bapak tua itu tersenyum dan berkata, "Lain kali jika kau menginginkan sesuatu janganlah hanya menunggu dan bermimpi, hanya tindakan nyatalah yang dapat mewujudkannya."
Pesan Moral: 
Salah satu hal terpenting untuk membedakan antara impian dan angan-angan adalah tindakan untuk memulainya. 
Seorang PECUNDANG banyak bermimpi tanpa tindakan, Seorang PEMENANG mempunyai MIMPI namun mencoba mewujudkan keinginan itu melalui tindakan. 
Dunia adalah milik mereka yang mempunyai impian besar dan berusaha mewujudkannya melalui tindakan nyata. Bukan menunggu dan hanya bermimpi tanpa ada tindakan. 
APAKAH ANDA MASIH MEMPUNYAI MIMPI ??
Post By Peluang Usaha
Read more >>